Respon Edi Natar Soal Wacana Ganti Nama Stadion Oleh Gubri
Pekanbaru(tindaktegas.com) - Sehubungan dengan viralnya di media sosial berita yang berjudul, *"Dinilai tidak bernuansa Melayu, GUBRI Abdul Wahid pertimbangkan ganti nama stadion Kaharuddin Nasution"*, banyak yang mengirim berita tersebut secara langsung dan meminta saya untuk memberikan tanggapan.
Untuk itu saya akan memberi tanggapan terkait berita tersebut.
Pertama pertanyaan saya, keinginan pak Abdul Wahid ingin mengganti nama stadion tersebut dari stadion Kaharuddin Nasution menjadi stadion Hangtuah, apa tak salah tu? apakah sudah melalui sebuah diskusi dan pengkajian?
Kita semua tentu tidak ingin ketika seorang pemimpin dalam mengambil keputusan hanya berdasarkan "tiba waktu tiba akal?", tanpa mengetahui sejarah dan apa yang melatarbelakangi kenapa sebuah nama itu ditabalkan pada suatu monumen.
Para pendahulu tentu tidak asal dalam pemberian nama sebuah monumen, pasti ada nilai sejarah yang terkandung didalamnya. Justru stadion Kaharuddin ini sebelumnya bernama stadion Hangtuah.
Kaharuddin Nasution merupakan Gubernur Riau ke-2 yang berkuasa selama 7 tahun (1960-1967), tentu saja jasa beliau tidak sedikit bahkan setelah beliau tidak lagi menjabat sebagai Gubernur Riau, beliau menjadi Gubernur di Sumatra utara.
Ini memperlihatkan bahwa prestasi yang beliau miliki tidak asal-asalan. Beliau menjadi Gubernur Riau disaat semangat Ganefo (Games of the New Emerging Forces) sedang bergejolak.
Ganefo merupakan sebuah pesta olahraga yang diprakarsai oleh Presiden Soekarno sebagai tandingan Olimpiade, dan Ganefo pertama sekali diselenggarakan di Jakarta pada tahun 1963.
Pesta olahraga ini bertujuan untuk memberikan wadah bagi negara-negara yang sedang berkembang (terutama negara-negara yang baru merdeka) untuk menujukkan potensi olahraga mereka dan memperkuat persatuan diantara negara-negara tersebut dan menentang hegemoni Barat melalui olahraga.
Pada saat itu semangat Ganefo ini menggema hingga ke penjuru daerah se Indonesia tidak terkecuali Riau.
Pada saat itu pulalah Provinsi Riau ini dipimpin oleh seorang perwira tinggi TNI bintang 3, berkualifikasi Komando yaitu pasukan khusus yang dimiliki TNI AD dengan pangkat Letnan Jenderal TNI.
Semangat ini tentu bukan tanpa maksud, makanya kenapa stadion tersebut oleh pejabat yang bersangkutan atas dasar pertimbangan yang matang sangat mempertimbangkan penggantian nama stadion kebanggaan masyarakat Riau ini dari yang sebelumnya bernama stadion Hangtuah menjadi Stadion Kaharuddin Nasution.
Kalau nama seorang mantan Gubernur Riau seperti beliau saja dianggap tidak layak untuk di tabalkan pada sebuah monumen yang dinilai bersejarah dan sangat memiliki korelasi ini, kenapa tidak dirobah saja semua nama-nama monumen yang menggunakan nama para mantan Gubernur lainnya yang sudah ada saat ini, apakah pada nama jalan, nama gedung ataupun nama yang sudah di tabalkan pada monumen lainnya.
Hilangkan saja semua nama para mantan Gubernur itu, antara lain nama jalan M, Amin, jalan Kaharuddin Nasution, jalan Arifin Achmad, jalan Subrantas, jalan Imam Munandar, Gedung PU Rusli Zainal dan lain-lain.
Saya kira kita perlu cerdas dan cermat dalam mengambil sebuah keputusan, jangan sampai karena ketidakpahaman terhadap sejarah justru mengesankan seolah-olah kita tidak bisa menghormati pemimpin sebelumnya, itu merupakan aib dalam kehidupan melayu.
*Edy Natar*
Amrizal




