Negeri yang Dikuasai oleh Bayangan Sendiri

Negeri yang Dikuasai oleh Bayangan Sendiri

Tindaktegas.com, - Di sebuah tanah yang subur oleh sejarah dan harapan, seorang pemimpin dilantik dengan penuh doa dan pujian. Disebut-sebut sebagai kebanggaan seorang dai besar, rakyat berharap ia membawa cahaya bagi bumi Melayu. Namun, alih-alih cahaya, yang datang justru bayang-bayang panjang dari pohon yang hanya rindang bagi kelompoknya sendiri.

Ada satu penyakit yang kerap menjangkiti kursi kekuasaan: penyakit sempitnya lingkaran pergaulan dan matinya keberanian merangkul di luar pagar sendiri. Jabatan demi jabatan diisi bukan oleh orang yang punya ilmu dan daya guna, tapi oleh mereka yang sekadar punya kesamaan warna bendera dan baris salam satu partai.

Seperti seorang nelayan yang melempar jala hanya ke kolam sendiri, ia melupakan bahwa laut luas tempat ikan-ikan terbaik berenang jauh dari dermaga. Maka, jangan heran jika tangkapan hariannya makin kecil, sebab air kolam tak pernah cukup untuk menghidupi kapal besar bernama pemerintahan.

*Ilmu, integritas, dan kapasitas tak lagi menjadi mata uang utama*. Yang dihargai hanyalah loyalitas bisu, asal satu warna, asal satu meja saat rapat partai. Negeri ini tak kekurangan orang cerdas, tapi kekuasaan ini rupanya hanya merasa nyaman dalam sunyi yang setia. Ia takut dikritik, takut dikoreksi, hingga akhirnya hidup dalam gema suaranya sendiri.

Ironis, seorang pemimpin yang disebut-sebut sebagai simbol harapan justru menjelma menjadi menara gading yang hanya menerima tamu dari lorong tertentu. Apa gunanya menjadi gubernur dari rakyat jika yang dirangkul hanya keluarga politiknya sendiri?

*Negeri ini butuh pemimpin yang berani mengangkat mereka yang layak meski berbeda barisan*, bukan mereka yang hanya bisa mengangguk tanpa berpikir. Negeri ini butuh tangan terbuka, bukan genggaman sempit yang hanya mengisi kursi demi mempertebal kuasa.

Jika kekuasaan hanya dibagikan seperti warisan keluarga, maka jangan heran jika kepercayaan rakyat pun akan pergi seperti angin yang bosan mampir ke jendela yang tak pernah dibuka.

Oleh : Sayed abubakar Assegaf