Polemik Berita Tempo: NasDem Riau Siap Gelar Aksi, Siapa Diuntungkan dari Framing Ini?

Polemik Berita Tempo: NasDem Riau Siap Gelar Aksi, Siapa Diuntungkan dari Framing Ini?

TINDAKTEGAS | PEKANBARU,(16/4/26) — Riak kecil di halaman majalah berubah menjadi gelombang politik di Riau. DPW Partai NasDem Riau memastikan akan menggelar aksi damai dan menyampaikan pernyataan sikap terkait polemik pemberitaan majalah Tempo yang dinilai merugikan partai dan Ketua Umumnya, Surya Paloh.

Aksi dijadwalkan berlangsung Kamis (16/4/2026), dimulai dari Kantor DPW NasDem Riau dan berlanjut ke kantor PWI Riau.

Namun di balik rencana aksi tersebut, muncul pertanyaan yang lebih besar dari sekadar protes:

Siapa sebenarnya yang diuntungkan dari framing pemberitaan ini?

Dari Kritik ke Kontroversi

Polemik bermula dari cover story Tempo yang menggunakan pendekatan satir, termasuk metafora “PT NasDem Indonesia Raya Tbk” dan ilustrasi visual yang dianggap menyudutkan.

Bagi NasDem, ini bukan kritik biasa.

Sekretaris DPW NasDem Riau, Yopi Arianto, menilai pemberitaan tersebut telah keluar dari koridor kode etik jurnalistik karena mencampur opini dengan fakta.

“Kami siap dikritik, tapi bukan digiring ke opini sesat,” tegasnya.

Senada, Ketua Bappilu NasDem Riau Dedi Harianto Lubis menyebut ilustrasi dan narasi tersebut merendahkan marwah partai dan figur Surya Paloh.

Antara Kebebasan Pers dan Framing Opini

Dalam kaca mata kode etik yang dijaga Dewan Pers, media memang diberi ruang untuk:

  • mengkritik
  • menganalisis
  • bahkan menggunakan metafora

Namun batasnya jelas:

  • Tidak mencampur fakta dengan opini yang menghakimi
  • Di sinilah konflik mulai terbentuk.
  • Tempo bisa berdalih ini adalah kritik interpretatif.

NasDem melihatnya sebagai framing yang membentuk persepsi publik tanpa dasar fakta kuat.

Analisa: Peta Kepentingan di Balik Framing

1. Media: Mendapat Momentum dan Atensi

Bagi media seperti Tempo:

  • Cover kontroversial = perhatian publik meningkat
  • Diskursus nasional terbentuk
  • Posisi sebagai watchdog kekuasaan diperkuat

Dalam logika industri media:

Kontroversi adalah magnet perhatian

2. Lawan Politik: Efek Tidak Langsung

Narasi yang mengaitkan NasDem dengan Gerindra, meski belum tentu faktual, bisa:

  • memicu persepsi liar di publik
  • membuka ruang spekulasi politik
  • melemahkan positioning NasDem

Dalam politik:

Persepsi seringkali lebih cepat dari klarifikasi

3. NasDem: Simpati dan Konsolidasi

Ironisnya, polemik ini juga bisa menguntungkan NasDem:

  • memperkuat solidaritas kader
  • membangun simpati publik
  • menegaskan posisi sebagai pihak yang dirugikan

Aksi damai yang digelar: bukan sekadar protes, tapi konsolidasi kekuatan

4. Publik: Penonton atau Korban Persepsi?

Di tengah tarik-menarik ini, publik berada di posisi rawan:

  • menerima informasi yang belum tentu utuh
  • terpengaruh framing visual dan narasi

Pertanyaannya:

Apakah publik sedang diberi informasi, atau diarahkan persepsinya?

Pakar: Media Harus Tetap Berimbang, Jangan Memperkeruh

Polemik ini juga mendapat sorotan dari kalangan akademisi. Seorang pakar informasi publik dari Universitas Riau mengingatkan agar insan pers tetap menjaga keseimbangan dalam melihat persoalan.

“Kami mengimbau seluruh rekan media agar melihat perkara ini dengan kaca mata berimbang dan tidak terpancing untuk memperkeruh situasi. Pers harus tetap menjadi penjernih informasi, bukan justru memperbesar konflik,” ujarnya.

Menurutnya, dalam situasi sensitif seperti ini, media memiliki peran strategis:

  • menjaga akurasi
  • menghindari framing berlebihan
  • serta memastikan publik mendapatkan informasi yang utuh

Langkah NasDem: Tekanan Moral ke PWI

Selain aksi, NasDem juga akan meminta sikap resmi dari PWI Riau.

Langkah ini menunjukkan:

  • dorongan evaluasi etik di internal pers
  • sekaligus upaya menjaga ruang publik tetap sehat

Siapa Pemenangnya?

Belum ada yang benar-benar menang.

Namun satu hal pasti:

  • Polemik ini memperlihatkan bahwa pertarungan hari ini bukan hanya soal kekuasaan, tapi soal siapa yang mengendalikan narasi.
  • Dan ketika narasi diperebutkan,

yang paling rentan tergeser bukan hanya kepentingan politik…

melainkan kepercayaan publik itu sendiri.(*)

Rilis: Bro Red