Kontributor LKS Ahmad Zakaria Diduga Monopoli Perdagangan LKS di Kota Pekanbaru, Kabarnya Oknum Dinas Disdik Terlibat Membekingi
Pekanbaru(tindaktegas.com) - Terjawab sudah hasil Investigasi beberapa media di Kota Pekanbaru, hasilnya Masya Allah bikin bulu kuduk merinding. Kenapa tidak dari 44 jumlah sekolah, ada sekitar 95 persen dikuasai kontributor Lembar Kerja Siswa diketahui bernama Ahmad Zakaria.
Gila, Ahmad Zakaria ini di nilai yang selama ini memperkaya oknum -oknum kepsek nakal di Kota Pekanbaru. Dikalangan pedagang buku, tidak satupun yang sanggup menyaingi Ahmad Zakaria di tingkat SMP, karena buku yang mereka jual murah dengan harga berkisar 4000 hingga 5000 rupiah.
Sementara pihak sekolah menjual berkisar antara 16 ribu hingga 17 ribu rupiah perbukunya. Dimana, dimana satu orang anak harus memiliki buku LKS 10 buku. Bila di kalkulasikan 12 ×10 buku peranak, hasilnya 120 ribu peranak jatah kepsek.
Jika dikalikan 120 ribu peranak jika sekolah memiliki 1000 anak, maka kepsek bisa mengantongi kocek hingga 120 juta persemester. Nah, belum lagi dana seragam yang mana perbaju kepsek bisa meraup untung Rp70 ribu hingga 100 rupiah per stel. Maka perkepsek, jika dikalikan 300 anak saja persekolah bisa meraup untung Rp 30 juta -- Nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustai.
Dan hasil investigasi pula, pola kerja dari Ahmad Zakaria adalah mencari tempat foto copy bahkan didalam sekolah untuk menyalurkan buku-bukunya. Dalan bisnis ini pihak foto selaku penjual mendapatkan Rp1000 perbukun.
" Kami hanya menjual bang, kami hanya dapat untung Rp1000 perbuku. Kami tidak tahu masalah lain Kalau yang lain langsung tanya sama kepala sekolah saja ," kata salah seorang pedagang di Kita Pekanbaru, kepada awak media.
Bahkan, pihak foto Copy itu terkesan takut melayani awak media, sembari mengatakan jangan namanya di publish ke media, mereka hanya berusaha dan berdagang.
Kemudian, hasil yang berdebar di sekolah dan kalangan media, diketahui oknum dinas berinisial E merupakan terduga pembeking. Oknum E ini kerap berhubungan dengan beberapa kontributor buku lKS di Kota Pekanbaru. Dan upaya pembekingan dan pemberi jalan oknum inisial E ini sudah berjalan sekian tahun.
Padahal, melihat keadaan pendidikan saat ini sangat miris. Dimana ekonomi saat sedang morak marid, jangankan untuk buku makan saja masyarakat saat hurus banting tulang l.
" Ngeri bang, kami tidak bisa tawar menawar, sebab guru menekan anak kami melalui PR, jika tidak ada lKS nilai anak kami terancam," kata salah seorang orangtua Teti, Rabu pagi tadi.
Terkait dengan LKS, kata orangtua siswa, itu hal yang wajar untuk meningkat ilmu anak kami. Akan tetapi harganya ini janganlah menekan dan terkesan memeras rakyat " Kami setuju bukunya, tapi harganya jangan gila-gilaan. Kalau ada dendam jabatan, kepsek seharusnya jangan tekan uangnya ke kami," kata orangtua itu dengan nada kesal.
Padahal, terkait dengan hal ini. Kapala Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru, Jamal telah menekankan untuk tidak memaksa atau mencari keuntungan dalam jabatan dengan menjual LKS " Sudah kita layangkan suratnya kok ke masing-masing sekolah," katanya, beberapa Minggu lalu.
Terkait dengan hal ini, awak media akan menyurati kementerian pendidikan Republik Indonesia untuk segera menertibkan perdangan LKS di sekolah SMP di Kota Pekanbaru " Kami akan surati nanti kementerian pendidikan, sebab terkait perdagangan buku LKS di SMP milik Ahmad Zakaria ini sudah melampaui batas kemanusian alias 'sadis' " katanya.
Untuk itu setelah muncul berita ini tidak ada respon dari Jamal, maka kita kasih waktu agak 15 hari, akan layangkan surat resmi agar LKS di tertibkan " Kita tidak main-main Masalah ini, sebab ini sudah unsur mafia. Sebab mereka terkesan menindas dalam masalah harga yang mahal," pungkasnya.***
Amrizal




