Aktivis Perempuan Rika Parlina S.H Merasa Lemahnya Pengelolaan Koro Koro Diduga Jadi Sarana Perusak Moral Anak.

Aktivis Perempuan Rika Parlina S.H Merasa Lemahnya Pengelolaan Koro Koro Diduga Jadi Sarana Perusak Moral Anak.

Pekanbaru(tindaktegas.com) - Aktivis perempuan anak Riau.,Rika Parlina S.H,merasa kehadiran Koroko di Kota Pekanbaru bagai pisau bermata dua.Disatu sisi sangat baik untuk sarana hiburan dan penyaluran bakat bagi warga Pekanbaru,disisi lain adalah salah satu sarana penyebab rusaknya moral generasi muda terutama anak dibawah umur.Kondisi ini seperti diabaikan oleh Pemko sebagai pembuat regulasi dan aturan.Pemko seperti membiarkan pengelola membuat aturan sesuka hati tanpa peduli akan kondisi yang terjadi.

Hal ini disampaikan oleh Rika Parlina saat dijumpai awak media disalah satu kafe jalan Durian.Menurutnya kondisi anak bangsa sangat miris saat ini.Begitu banyak sarana dan prasarana yang menjadi penyebab merusak akhlak dan moral.Salah satu lokasi yang sering dijadikan sarana adalah tempat Karoke.

"Sebenarnya keberadaan Karaoke tidak ada salahnya.Itu merupakan salah satu sarana untuk warga menyegarkan pikiran dan juga menyalurkan hobby menyanyi atau sekedar mendengarkan nyanyian.Hanya saja setiap pengelolaan karaoke juga mesti peduli akan kondisi lingkungan dan kearifan lokal,"ujar Rika Parlina 

"Salah satu lokasi karoke yang cukup kami sore adalah koro koro yang terletak di Jalan HR soebrantas Panam.Lokasi ini banyak dijadikan para remaja dibawah umur untuk berbuat tak senonoh atau juga melanggar aturan.Banyak terlihat anak dibawah umur yang datang berpasang pasangan.Mereka jadikan lokasi koro koro sebagai ajang pelepasan hawa nafsu.Maka tak heran saat ini banyak anak anak dibawah umur yang hamil sebelum waktunya atau juga diluar nikah.Kondisi ini kadang memicu aborsi yang bisa berdampak pada konsekuensi hukum.

"Kondisi ruangan atau kamar yang bisa dikunci dari dalam menjadi faktor pendukung lainnya yang membuat remaja bisa berbuat bebas.Belum lagi didalam ruangan ada sofa yang lebar dan lapang bahkan bisa dijadikan tempat untuk tidur.Jadi jangan heran jika sepasang remaja bisa berbuat yang melanggar batas.Mereka merasa karena bisa dikunci dan takan diganggu orang.Bahkan bisa lebih bebas dari hotel,berbuat mesum tapi sambil dengarkan musik."lanjut Rika Parlina 

"Selain itu, kamar yang bisa dikunci ditakutkan nantinya para anak remaja atau dibawah umur juga berani minum miras ataupun memakai narkoba.Mungkin saja sebelum masuk ruangan mereka telah membawa dari luar,tapi tak terlacak saat masuk ruangan.Jadi kontrol yang lemah dari pengelola dapat menjadikan koro koro jadi sarana pilihan bagi remaja untuk berbuat menyimpang.Seharusnya pengelola tak perlu buat pintu yang bisa dikunci dari dalam terutama bagi para remaja.Selain itu jam operasional yang hingga dini hari makin menjadikan koro koro bagaikan salah tempat terbaik untuk berbuat yang tak sesuai dengan kearifan lokal."

"Sebenarnya kami tak melarang tempat hiburan seperti koro koro.Hanya saja pengelola ataupun Pemda jangan cuma memikirkan soal pendapatan tanpa peduli pada kondisi anak anak.Kami merasa saat ini harapan menjadikan kota Pekanbaru jadi kota layak anak sangat jauh panggang dari api.Kerusakan moral anak anak sudah banyak terjadi tanpa ada upaya untuk mencarikan solusi yang terbaik agar anak anak ini bisa kembali pada norma dan aturan yang ada tanpa dirusak oleh lingkungan,"pungkas Rika Parlina