Pemimpin yang Tertukar : Bayang-Bayang di Tahta, Terang di Pinggiran
Tindaktegas.com, - Kadang sejarah keliru menempatkan. Mahkota diberikan pada yang hanya ingin terlihat, sementara yang bekerja sungguh-sungguh justru berjalan dari pinggiran. Di Riau, dua wajah kepemimpinan sedang menampilkan kontras itu: Agung Nugroho di Kota Pekanbaru dan Abdul Wahid di tampuk provinsi.
Agung: Membumi, Menyala, Bekerja
Agung Nugroho bukan sekadar wali kota. Ia pelayan rakyat. Ia hadir di lorong-lorong sempit, mendengar langsung jeritan warga, dan menjadikannya peta kebijakan. Dari banjir, lalu lintas, hingga pelayanan publik, ia tidak duduk nyaman di balik meja, tapi turun ke lapangan, menyusun strategi, dan menggandeng kementerian pusat agar Pekanbaru tak sekadar ibukota administratif, tapi pusat kemajuan.
Dalam defisit, ia tak menyalahkan keadaan. Ia bekerja. Mengajak DPRD bersinergi, mempercepat digitalisasi, dan membuka ruang diskusi lintas sektor. Bila Jawa Barat punya Dedi Mulyadi pemimpin blusukan penuh empati dan terobosan maka Riau punya Agung Nugroho: pemimpin yang menyala dari bawah, bukan bersinar di panggung.
Wahid: Sibuk Tampil, Sepi Tindakan
Gubernur Abdul Wahid menampilkan gaya kepemimpinan yang lain. Di tengah defisit anggaran Rp3,5 triliun, rakyat menanti arah dan solusi. Tapi yang tampak justru parade foto, kunjungan formal, dan konten visual.
Ia kerap ke Jakarta, entah berapa kali dalam sebulan, membawa rombongan, menguras anggaran. Ironisnya, hasil tetap nihil. Sementara teknologi hari ini telah memberi kita ruang komunikasi tanpa batas, ia seolah belum percaya pada efisiensi padahal Zoom Meeting bisa menggantikan ruang rapat, dan keputusan bijak tidak selalu lahir dari perjalanan fisik. Biaya yang dikucurkan untuk ‘hadir’ secara fisik, jika tanpa dampak nyata, justru melahirkan defisit baru bukan hanya dalam angka, tapi dalam kepercayaan.
Lebih dari itu, ia sering terdengar mengeluh: pusing, capek, bingung. Padahal rakyat tak butuh simpati dari pemimpin, mereka butuh solusi. Dan solusi tak datang dari kata-kata lelah, tapi dari keteguhan niat.
Riau Butuh yang Hadir, Bukan Sekadar Ada
Kepemimpinan bukan soal tampil di sorotan, tapi tentang memberi dampak dalam senyap. Agung bergerak dengan semangat itu: hadir tanpa hiruk pikuk, bekerja tanpa banyak bicara. Sementara Wahid dengan gaya simbolik dan narasi pencitraan lebih sering tampak, daripada berdampak.
Aria Dwi pangga




