Krisis KONI Riau: Dukungan 12 Kabupaten Menguat, Bro Doan Ingatkan Bahaya Ego Jika Tak Ada Jiwa Besar

Krisis KONI Riau: Dukungan 12 Kabupaten Menguat, Bro Doan Ingatkan Bahaya Ego Jika Tak Ada Jiwa Besar
Doan Samuel Nababan | Ketua Pertina Riau

TindakTegas | Pekanbaru, (28/2/26) – Polemik pemilihan Ketua Umum KONI Provinsi Riau periode 2026–2030 kian memanas. Namun di tengah riuh administrasi dan silang tafsir aturan, satu fakta mencuat ke permukaan: dukungan mayoritas kabupaten/kota disebut telah mengerucut dan mendominasi kepada satu figur yang dinilai mewakili aspirasi 12 daerah di Provinsi Riau.

Situasi ini memunculkan harapan sekaligus kegelisahan. Harapan karena mayoritas suara dinilai telah jelas. Kegelisahan karena konflik di tingkat Tim Penjaringan dan Penyaringan masih belum sepenuhnya mereda.

Mayoritas Suara, Tuntutan Legitimasi

Dukungan 12 kabupaten/kota bukan sekadar angka. Dalam dinamika organisasi sebesar Komite Olahraga Nasional Indonesia, legitimasi lahir dari konsensus struktural. Ketika mayoritas daerah telah menyatakan sikap, maka yang dibutuhkan bukan lagi tarik menarik administrasi, melainkan kebijaksanaan untuk menerima realitas demokrasi organisasi.

Sejumlah pengurus cabang olahraga menilai, jika proses ini terus tersandera oleh konflik prosedural, maka dampaknya akan merembet pada stabilitas pembinaan atlet.

Musorprov yang seharusnya menjadi ajang adu visi justru berubah menjadi babak tambahan yang melelahkan. Atlet menunggu, pelatih menanti, program berjalan setengah napas.

Bro Doan: Olahraga Butuh Sportivitas, Bukan Ego

Ketua Persatuan Tinju Amatir Indonesia Provinsi Riau, Doan Samuel Nababan atau yang akrab disapa Bro Doan, menyampaikan kegelisahannya atas situasi ini.

Menurutnya, olahraga dibangun di atas sportivitas. Jika di gelanggang tinju saja petarung bisa saling merangkul usai pertandingan, maka dalam organisasi pun seharusnya ada jiwa besar untuk mengakui keunggulan pihak lain.

“Kita ini membina atlet untuk berjiwa ksatria. Kalau dalam proses pemilihan saja kita tidak siap menerima hasil mayoritas, lalu nilai apa yang sedang kita ajarkan?” ujar Bro Doan.

Ia menegaskan bahwa dominasi dukungan dari 12 kabupaten/kota sudah menjadi sinyal kuat arah pilihan daerah. Dalam konteks demokrasi organisasi, suara terbanyak adalah fondasi legitimasi.

“Kalau mayoritas sudah jelas, maka yang dibutuhkan sekarang adalah kebijaksanaan. Mengakui keunggulan calon lain bukan kekalahan, itu bentuk kedewasaan,” tambahnya.

Ancaman Jika Konflik Berlarut

Bro Doan mengingatkan, konflik yang tidak segera diselesaikan secara elegan bisa berdampak serius:

  • Stagnasi program pembinaan cabor
  • Tertundanya penganggaran dan koordinasi daerah
  • Menurunnya moral atlet
  • Potensi perpecahan permanen di tubuh KONI Riau

Menurutnya, organisasi olahraga bukan arena adu gengsi. Jika salah satu calon tidak menunjukkan kebesaran hati untuk merangkul dan menerima dinamika suara mayoritas, maka yang dirugikan bukan individu, melainkan seluruh ekosistem olahraga Riau.

“Jangan sampai atlet kita jadi korban dari konflik elite. Mereka latihan pagi dan sore, keringatnya nyata. Jangan biarkan mereka kehilangan arah karena kita gagal bersikap bijak,” tegas Bro Doan.

Momentum Rekonsiliasi

Sejumlah pengurus daerah berharap polemik ini segera diakhiri dengan langkah elegan. Jika satu pihak telah memperoleh dominasi dukungan 12 kabupaten/kota, maka pengakuan terbuka dari calon lain akan menjadi titik balik yang menenangkan situasi.

Rekonsiliasi bukan soal siapa kuat dan siapa lemah. Ini soal menjaga marwah organisasi.

KONI adalah rumah besar olahraga Riau. Rumah itu tidak boleh retak hanya karena enggan menerima hasil demokrasi.

Kini publik olahraga menanti: apakah para kandidat mampu menunjukkan jiwa besar, atau konflik ini akan terus bergulir hingga menggerus kepercayaan dan menghambat prestasi?

Waktu terus berjalan. Atlet terus berlatih. Dan sejarah akan mencatat, siapa yang memilih kebijaksanaan, dan siapa yang memilih memperpanjang badai.(*)

Editor: Bro